Selamat Datang di BLOG RINZI,PERJALANAN MENGGAPAI RIDHO ILLAHI
Tampilkan postingan dengan label CeritaQ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CeritaQ. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 April 2011

Perempuan Lain Kurnia

Kurnia sedang jongkok di depan kampus baranangsiang IPB menikmati udara sejuk di bawah perpohonan. “Fuuuh.” Kurnia menghembuskan asap rokok dari bibirnya, dia sedang membayangkan sesuatu yang sudah lebih dari 2 bulan ini selalu menyita pikirannya.

“Bos... ngelamun ajah.” Kata Eri menepuk punggung Kurnia, mengagetkan Kurnia dari lamunannya. “Lagi mikirin Istri ya? bentar lagi pulang mas... ga sabaran amat.”

“Sok tahu kamu... lagi ga mikirin istri.” ucap Kurnia datar sambil terus melanjutkan menikmati rokoknya.

“Loh kalau ga mikirin istri mikiran apa mas? wanita lain?hehehe.” Kata Eri sambil berjongkok disebelah Kurnia.

“Heh Tahu aja.” ucap Kurnia menyunggingkan senyum setengahnya yang khas. Dihisap rokoknya untuk terakhir kalinya. Lalu dilemparkan ke selokan. “Ayo lanjut kerja, malah santai-santaian disini.” Kurnia berdiri meninggalkan Eri.

“Eh mas...baru juga istirahat bentar udah disuruh kerja lagi. Capek neh mas.” Keluh Eri.

“Biar cepet pulang! Ayo!” Teriak Kurnia dari kejauhan seraya memberikan isyarat tangan agar menyusulnya.

---------------------

Entahlah, akhir-akhir ini perempuan itu yang bernama Shasa telah mempengaruhi pikirannya. Kurnia seakan-akan tersihir pada Shasa sejak pandangan pertama. Kurnia mengendarai motornya dengan pelan melewati jalan-jalan disekitar Pajajaran. “Fuuuh...” Kurnia mengeluarkan nafas panjang mengeluarkan beban-beban dipikirannya.

Tiba-tiba hujan turun sangat deras. Dengan tergesa-gesa Kurnia memarkirkan motornya di kios yang tutup. “Duh... Bogor ini kalau hujan ga bilang-bilang dulu.” Ucap Kurnia dalam hati. Kurnia jadi ingat istrinya yang selalu mewanti-wanti agar membawa jas hujan yang selalu ditinggal di ruang tamu. “Seharusnya aku bawa tadi.” sesal Kurnia.

Hujan makin lama makin deras. Tidak ada tanda akan berhenti. Kembali Kurnia melamunkan perempuan itu. Ia ingat-ingat lagi kapan ia jatuh cinta kepada Shasa. “Senyuman, tawa yang khas, tatapannya, wangi tubuhnya....aah aku sangat merindukannya.” pikir Kurnia. Matanya menatap langit membayangkan Shasa. “Bila dibandingkan dengan istriku...hm... aku sayang kedua-duanya, tapi Shasa beda.”

Derasnya hujan berganti dengan rintik-rintik air. Kurnia melanjutkan perjalanannya. “Aku merindukannya.” kata-kata itu menggema dalam pikirannya sepanjang perjalanan. Berhentilah ia disebuah rumah sederhana yang mungil. Di parkirkan motornya di teras rumah itu. Kurnia membuka pintu rumah tersebut yang seperti biasa Kurnia tahu tidak pernah dikunci kecuali sore sampai pagi. “Ceklek.” Udara hangat keluar dari dalam rumah ketika Kurnia membuka pintu. Dilepas sepatu yang basah hingga ia telanjang kaki. Berjalan pelan-pelan menuju sebuah kamar yang tidak jauh dari ruang tamu.

“Assalamu’alaikum...” Sapa Kurnia dengan lembut saat memasuki kamar. Dilihatnya Shasa yang sedang tertidur. Kurnia tersenyum, lalu pelan-pelan menghampiri ranjang tempat Shasa tidur. “Cantiknya...” guman Kurnia mengagumi kecantikan Shasa. Diciumnya pipi, kening, dan bibir Shasa dengan lembut dan penuh kasih sayang. Shasa terbangun, dan menatap mata Kurnia, tersungging senyum manis dari bibir Shasa yang membuat Kurnia bahagia. Dipeluknya Shasa dengan mesra lalu “Adaaaaaow....!” pipi Kurnia ditarik dengan keras. Ketika dia menoleh dilihat istrinya dengan muka marah dan kesal.

“Sudah berapa kali Asti bilang! Pulang kerumah itu cuci kaki dulu! cuci tangan dulu! bersih-bersih dulu! jangan langsung gendong Shasa! Habis dari mana-mana juga!” Kata Asti dengan marah. “Ayo keluar!” Asti menarik pipi Kurnia dengan lebih keras.

“Adooow... adooow...iya iya... bentar taruh Shasa dulu di tempat tidur.” Kurnia menaruh Shasa dengan lembut ke tempat tidur. “Abi mandi dulu ya sayang.” saat Kurnia mendekatkan wajahnya ke pipi Shasa hendak menciumnya.

“Nanti aja cium-cium nya! Mandi dulu!.” kata Asti sambil mencubit pipi Kurnia menghalangi Kurnia mencium Shasa. “Udah sana.” Asti mendorong Kurnia keluar pintu kamar.

“Da dah sayang.... nanti abi gendong ya.” Kata Kurnia melambaikan tangannya ke Shasa lalu menjauh dari kamar.

Shasa melihat kejadian itu tertawa dan berteriak terpingkal-pingkal. Entahlah...apakah ia mengerti atau tidak.
[ Read More.. ]

Baso Asti

Bulak-balik Asti keluar masuk rumah kontrakannya, gelisah menunggu sesuatu. Dari jam 5 sampai dia selesai sholat maghrib yang ditunggu tidak datang. Perutnya sudah keroncongan menagih di isi, padahal dirumah ada nasi, telur dan mie instan tapi Asti tetap setia menanti kedatangan tukang baso yang sering lewat depan gang kontrakannya, Asti yang lagi ngidam membayangkan baso adalah makanan mewah. Tapi ditunggu-tunggu tetap si tukang bakso itu ga nongol-nongol.

“Mas anterin...” rengek Asti ke suami.

“Kemana?” Kata suaminya.

“Beli bakso lah mas... Asti tunggu-tunggu dari tadi bakso nya ga muncul-muncul... Asti kan lapar.”

“Ya tunggu aja dulu sebentar lagi... “

“Maas....” rengek Asti lagi.

Suaminya yang tak tahan denger istrinya merengek terus, mulai mengalah. “Ok, mau beli dimana?”

“Di depan pasar Prawirotaman...”

Lalu pergilah sepasang suami istri ini berjalan kaki dari dimulai dari kuburan karang kunti sampai pasar prawirotaman. Ditemani bintang-bintang dan bulan yang bersinar, serta angin yang berhembus pelan saat melewati ratusan kuburan disepanjang jalan sambil bergandengan tangan. Sungguh suasana yang romantis bagi keduanya.

Sesampainya didepan pasar prawirotaman, senang sekali Asti melihat gerobak baso penuh dengan baso-baso sesuai dengan yang dibayangkan.

“Mas Basonya 1 bungkus.” Kata Asti kepada abang bakso.

Dengan cekatan si tukang bakso meracik. Beberapa menit kemudian selesailah, lalu diserahkan baso racikan si abang bakso ke Asti. Asti begitu bahagia menerima bakso itu. Tak sabar Asti ingin memakannya, bau khas dari daging dan kuah basonya menggoda selera Asti.

Asti heran kok suaminya tidak memberikan respon kepada abang bakso yang sedang menunggu pembayaran. “Mas.... bayar ich...” tegur Asti mengingatkan.

“Loh bukannya Asti yang bayar... Mas ga bawa uang.” Kata suaminya kaget.

Asti memucat... tidak rela Asti menyerahkan bakso itu kembali ke abang bakso. Dengan agak panik Asti merogoh-rogoh kantong jilbabnya yang kanan. “Tidak ada.” ucap Asti dalam hati. Lalu Asti melanjutkan dengan merogoh-rogoh kantung jilbabnya yang kiri. Ada selembar kertas dikantung jilbabnya. “Jangan sampai seribu... jangan sampai seribu...” doa Asti dalam hati sambil mengeluarkan uangnya pelan-pelan dari dalam jilbab. Fuiiih.... Asti bernapas lega, “PAS” lima ribu rupiah di kantung bajunya. Diserahkan ke abang bakso itu dengan senyum lega.

“Mas kenapa ga bawa uang sih? untung aja Asti nyimpen lima ribu di kantong. Coba kalo enggak?” Kata Asti kepada suaminya dengan nada menyalahkan dan ngambek.

Suami nya tersenyum lalu berkata “Ya... kalo enggak Asti tungguin di tukang abang bakso, Mas pulang dulu...”

Tersenyum lah Asti mendengar jawaban suaminya, suaminya rela pulang untuk mengambil uang. Pikir Asti.

“Trus ga balik-balik....hahahaha...” kata suaminya sambil tertawa lepas. “Adaaaow...sakit-sakit...”

Asti mencubit suaminya, “Uhh...” tapi Asti bahagia baksonya sudah ada ditangan. “Kita makan berdua ya dek.” ucap Asti dalam hati ke bayi diperutnya.
[ Read More.. ]

Bayam Asti

“Aku ga bisa masak.” kata Asti setibanya dirumah kontrakan suaminya di Jogja untuk pertama kalinya.

Kurnia tersenyum lalu membelai kepala Asti yang tertutup kerudung. “Iya mas tau.”

“Tau darimana?” Kata Asti kaget. “Asti kan baru kasih tau sekarang.”

“Ya... tadi kan dikasih tahu..hehehe.” Ucap Kurnia dengan senyum nakalnya. “Nanti mas ajarin masak.”

“Mangnya bisa?”

“Wets... ngeledek... bisa lah... Mas mu ini udah bertahun-tahun hidup sendiri.” Kata Kurnia dengan bangga.

“Ok..ok...” ucap Asti setengah percaya, setengah tidak.

Esok harinya.

“Ayo kita kepasar.” kata Kurnia pada pagi hari.

“Jam segini?” tanya Asti kaget, karena jam menunjukkan jam 6 pagi. “Masih sepiiii pasarnya juga...”

“Norak...jam segini pasar malah rame...”

“Oh ya?” ucap Asti sekali lagi setengah percaya.

Berangkatlah keduanya menyusuri jalan. Melewati kuburan. Menyusuri gang-gang kecil. Menapaki jalan Prawirotaman. Dan sampailah mereka di Pasar Prawirotaman. Ternyata benar pasarnya ramai sekali, orang-orang berlalu-lalang. Kurnia menggandeng Asti menjelajahi setiap jalur pasar.

“Mau beli apa mas?” tanya Asti.

“Lihat dan pelajari.” Kata Kurnia santai.

Kurnia melakukan transaksi dengan penjual, tawar menawar harga, dengan bahasa jawanya yang kacau tapi bikin orang percaya Kurnia memang sudah lama tinggal di Jogja.

“Waaah...” ekspresi kekaguman muncul dari mulut Asti. Karena hal ini bukan hal biasa yang pernah dilakukan Asti, dulu sebelum nikah belanja di warung depan rumah saja sangat jarang sekali banget. Apalagi belanja di Pasar yang 100x lipat dari warung depan rumah Asti.

Kantong belanjaan ditangan Kurnia sudah penuh terisi, “Sayur Bening Bayam” itulah resep pertama yang akan dipelajari Asti dari Kurnia, suaminya.

Sesampainya dirumah, mulailah Asti bereksperimen.

“Buka Kantong plastiknya, dan keluarkan bayamnya.” Intruksi awal Kurnia.

“Ya iyalah mas, masa mau dimasak juga kantong plastiknya.” dikeluarkan semua isi kantong plastiknya.

Satu jam berlalu dipenuhi dengan kata-kata. “Bukan begitu.”, “Gini aja dek.”, “Jangan banyak-banyak.”, “Belum pas itu.” dari Kurnia.

Dan dijawab dengan Asti, “Ya ya.”, “Ooh.”.

Selesailah sudah belajar memasaknya Asti. “Lumayan...” kata Kurnia.

Asti tersenyum bangga dengan pujian Kurnia.

Besoknya Asti pagi-pagi berangkat ke pasar, membeli sayur, dan sesampainya dirumah langsung dimasaknya.

“Wah rajinnya...” Kata Kurnia memuji Asti. “Udah mulai pas nih bumbu sayur bening.”

Asti makin terbang hidungnya. Semangat untuk memasak menggebu-gebu.

Besoknya Asti melakukan hal yang sama.

“Masak apa dek?” tanya Kurnia.

“Sayur bening bayam.” jawab Asti.

“Bayam lagi dek?”

“Iyaa... mang kenapa?”

“Ga apa apa seh lanjutkan.” Sambil berlalu pergi.

Besoknya Asti melakukan hal yang sama lagi.

“Dek masak apa?” tanya Kurnia.

“Bayam Mas...” jawab Asti santai.

“Deeek jangan bayam terus... Mas mu ini bukan popeye.” Keluh Kurnia.

“Trus gimana? Asti sudah beli bayamnya. Masa dibuang.” Kata Asti dengan mata berkaca-kaca.

“Sudah, sudah... bayam ditumis aja ya?” kata Kurnia menghibur Asti.

“Bayamnya bisa ditumis ya Mas?”

“Bisa lah dek.... sini Mas mu ajarin.”

Lalu diajarkan Asti resep kedua “Tumis Bayam”.

“Gimana Mas? Udah mantab?” tanya Asti.

“Yup... sudah pas. Makin pintar saja istriku.” Puji Kurnia.

“Hehe...”

Besoknya...

“Masak apa Istriku?” tanya Kurnia.

“Tumis bayam mas!” jawab Asti.

[ Read More.. ]

Minggu, 01 Februari 2009

Cerita Seminggu ini

Plak!! Ketika tamparan keras memang harus diberikan padaku oleh diriku sendiri... bagaimana tidak? masa gara-gara NPM (Nomor Pokok Mahasiswa) 01, kudu duduk didepan karena yang -biasanya- duduk ga diatur, sekarang malah diatur sesuai NPM. Apa pengaruhnya bagi kehidupanku? Ya jadi ga bisa calling2-an ma temen klo terdesak *halah*... tapi ada hikmahnya juga dibalik semua itu, ngerjain soal jadi khusyu tanpa gangguan, n semua soal dikerjakan seorang diri... ckckckckck... kagum juga ma diri sendiri...*hohohoho*. Ketika 95% ujian sudah dilaksanakan pada hari sabtu jam 5, tiba-tiba rasa sakit menyerang perutku, punggungku, dan kepalaku... Mual, pusing dan keringat dingin... wah three in one... tapi kudunya mah anak baik kalau sakit pasti istirahat, ini karena saking sangat baiknya malah bergadang nonton anime karena penasaran ma lanjutan ceritanya. Jadilah... Esok pagi yang cerah, masih dalam keadaan mual mual karena masuk angin, memaksakan diri untuk siap-siap berangkat JM... tapi apa daya... perut tidak mau kompromi, maunya dimanjain mulu, ya udah mau ga mau izin telat, tiduran bentar sambil nonton shinchan. "Bzzz..." HP dalam Profil silent ngegeter *BAHASA APA TUH??* tanda sms masuk... ternyata temanku ngajakin bareng kesana tempat JM... karena ga tega membiarkan dia seorang diri tanpa ada yang menemaninya....*Lebay....* maka aku pergi juga dengan perut mual ketempat yang dituju dengan jalan pintas tapi kudu 2 kali naek angkot. JM telah kulewati... ingin hati langsung pulang karena sudah ga tahan pengen makan dan tiduran, tapi ada 1 agenda lagi yang belum terselesaikan.... yaitu HQ, yaaaa.... demi mendapatkan ilmu, meraih cita-cita, meninggikan derajat 0,1 mm aku menjalankan HQ dengan mencoba untuk fokus, tapi tidak bisa maksimal. Hayyah beberapa jam berlalu... selesailah... saat perjalanan pulang, ingin hati ini merasakan nikmatnya ketoprak deket terminal Damri, ya niatlah aku melewati Botany untuk mendapatkan 1 bungkus ketoprak, tapi pada saat aku melihat adanya keramaian di Botany, aku bertanya-tanya, ada apakah gerangan yang terjadi di Botany. Aku bertanya pada teman di sebelahku tentang keramaian itu. "Di botany lagi ada luna maya, raffi ahmad, olga saputra ama band-band, ituloh syuting Dasyat." Muak... aku benci keramaian yang seperti ini, tapi rasa ingin menyantap Ketoprak sangatlah besar, maka ku terobos kerumunan itu dengan menyalip ke sisi kanan dan kiri, dengan tidak menyentuh pria-pria menjijikan *bagiku...jangan protes* yang antusias dengan acara yang begono begonoan. Berhasil.... aku melewati zona tidak aman, menjadi zona lumayan aman *coz orang-orang seperti itu menyebar sampai keluar-luar daerah botany, tapi populasinya tidak sebesar yang berada di daerah botany*. Aku beli ketoprak, dan cepat-cepat menyingkir dari orang-orang seperti mereka. Pulang dan Langsung naek angkot, itu tujuan ku sekarang. Entah kenapa aku merasa sangat kangen dengan angkot 05, begitu angka itu muncul, aku langsung menggapainya, dan berharap cepat-cepatlah keluar dari daerah ini *Udah mual banget soalnya*. Macet.... Macet Total saudara-saudara setanah air sebangsa senegara... dan lengkaplah rasa kekesalanku. Ada beberapa hal yang kupelajari : 1. Coba ada Aksi turun ke jalan dari aktivis-aktivis, entah partai, himpunan, ormas, kampus dll, orang-orang menggerutu. "Ngapain seh mereka, bikin macet jalan aja." Tapi klo ada konser dan yang sejenisnya, pokoknya acara seneng-seneng. Fine-fine aja malah dukung banget kayaknya. *Orang yang ngomong di angkot, supir, bapak2, ibu2 dan lain2 sepengetahuan aku* 2. Mudah ya mengumpulkan para anak muda kalau acaranya itu acara yang kayak begituan, mereka inisiatif sendiri datang tanpa diminta, coba kalau seminar, diskusi, kajian dan yang lain-lain, susaaaah banget ngajakkinnya. Gimana bisa maju dek....

[ Read More.. ]

Minggu, 11 Januari 2009

[Ri2n Cerita] Belajar Matematika yuk?

Ayo… kita belajar Matematika…. Hohohoho

Eiits pada mo pada kemana?? Jangan pergi dulu dunkz… dibaca dulu neh tulisan mpe abis… baru boleh kabur… *maksa*

Nah… si ri2n neh lagi strees sama beberapa mata kuliah di kampusku, makanya punya pemikiran ngaco…

Merubah sesuatu yang biasa menjadi tidak biasa… itu tema kita yang sekarang…

Ini beberapa penemuan ngaco tentang Matematika…

1. 1. Berapa neh 1 + 1?

“aduh ri2n…plz deh kayak gitu aja pake ditanya ya jelas 2 lah, anak tk juga tau…”

Ckckckckck… jangan protes dulu ya saudara-saudara ku… ternyata tidak selamanya loh hasilnya menjadi dua.

“Koq bisa?”

Iya bisa lah… ayo kita mulai berimajinasi… hohohoho

Ini neh ya contohnya… kita bicara secara ilmiah *ceile*.

1+1 >> memang selalu 2, tapi bila 1+1 ini memiliki variable yang berbeda maka 1+1 tetap bernilai 1+1.

x = 1

y = 1

x+y = x+y

Jadi inget teka-teki waktu SD, “1 sapi ditambah 1 kambing sama dengan berapa?”

Ya… 1 sapi dan 1 kambing.

Jadi terbukti tidak selamanya 1+1=2 *yaelah gedubrag*

Next…


2. 2. Apa saja komposisi dari Teh Manis?

“Komposisi teh manis ya, gula, air, dan teh.”

Hm… klo gitu berarti bisa kita simpulkan…

Teh manis = gula + air + teh

Yakin neh?

“Yakinlah…”

Sebenernya ada yang kurang tuh…

Klo misalkan air nya se gallon, trus teh nya sesendok? Mana bisa jadi teh manis….

Hohohoho…

Jadi saudara-saudara, klo mo bikin teh manis kudu diliat dulu takarannya, pas atau kagak....*halah semua orang juga tau rin...*

Pikiran ngaco nya baru dapet dua…. insyaAllah semakin lama dan semakin strees pikiran ngaconya makin bertambah….

[ Read More.. ]

Jumat, 14 November 2008

[Ri2n Cerita] Tentang Dunia

“Ayo Riz…sekali-sekali ikut Friday Talking-Nya FKMI, cuma diskusi biasa koq, sekaliii ini aja.” Sambil narik-narik tangan Rizka.

“Ga ach rin malu… Rizka kan dandanannya kayak gini.”

Kulihat tampilannya dari atas sampai bawah, baju ngepres, celana jeans, kerudung pendek. “hehehe… gak apa apa koq, cuek aja… mau ya?”

“Rin gw malu… riz kan beda dunia ama mereka. Ntar disuruh ngaji rutin lagi… Rizka males ach…” katanya menggerutu seperti anak kecil.

Aku tersenyum mendengar ucapannya *sabar* ucapku dalam hati. “Ga apa apa, untuk kali ini aja, besok-besok terserah Rizka mau ikut lagi atau ga, niatkan hari ini karena Allah, bukan karena rin maksa… semoga Amal perbuatan mu hari ini dibalas berkali-kali lipat.”

Dan jalanlah kami berdua ke belakang rektorat untuk mengikuti Friday Talking, walaupun Riz agak terlihat terpaksa.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Perkataan yang biasa rin dengar dari temen-temen “dunia biasa” yaitu “males ach ngaji…” indah cara pengucapannya, mengena di hati, dengan percaya dirinya yang luar biasa.

Entah karena apa dan mengapa, kajian FT itu terlihat menyeramkan, dimana yang ngajinya itu para akhwat-akwat yang mengenakan jilbab dan kerudung lebar, duduk melingkar di taman belakang rektorat, beralaskan tikar, terkesan eksklusif *padahal tidak*.

Miris juga seh waktu ada yang bilang, “Lihat deh ngapain seh tu pada ngumpul-ngumpul, jadi takut, jangan-jangan aliran sesat,” or “Wah teroris ngumpul.”

Masa seh rin pada ngomong gitu? Eh… bener loh… orang-orang “dunia biasa” ngomongnya langsung depan muka, *kadang-kadang dibelakang rin, disamping juga pernah, di sekitaran dah* Indah benar ucapanmu… kataku dalam hati.

Temen-temen “dunia biasa” juga sering bilang, “Kita ini beda dunia rin…”

“Wah memangnya kamu berada di dunia yang mana, dan aku berada di dunia yang mana?”

“Yah… terlalu fanatik gitu… yang biasa aja dunk rin.”

Yah… mereka hidup dalam “dunia biasa” (baca: sekulerisme) dan aku hidup dalam “dunia fanatik islam”.

Mereka sadar kalau “kefanatikan” ku dan kawan-kawan “dunia fanatik” ini adalah benar (ngaji rutin, pake jilbab, pake krudung yang menutupi dada *malah kelebihan*, tidak ikut-ikutan campur baur dengan ikhwan non mahram, punya prinsip islam). Tapi mereka tolak karena ketidaksiapan mereka *atau ketidak tahuan mereka akan pentingnya berusaha menggapai islam yang sempurna*.

“Aku ga mau terlalu banyak mikir, udah yang gini-gini aja.”

“Ngapain kalian kuliah kalau dari awal memang ga mau mikir? Dan untuk apa kalian diberi akal kalau bukan dipakai untuk berfikir. Apa ini lebih susah dari soal Kalkulus, integral, differensial, atau aljabar?”

Ini karena ketidaktahuan.

Ini karena Pengaruh lingkungan.

Ini karena sistem yang salah.

Sehingga Islam diasingkan dari umatnya.

CukupLah menjadi alasan mengapa dunia ini menertawakanmu….


“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

(QS Ali Imran [3]: 103)


Mood : Gi BT....beuh... UTS bentar lagi, mo pasrah aja dah... belajar yang bisa aja... MaTKriT (matematika diskrit) tantangan yang berat.... pusing gw....

[ Read More.. ]

Senin, 13 Oktober 2008

[Ri2n Cerita] Serba Ok

LASKAR PELANGI… rin suka tu bukunya, tapi cuma baru baca seperempatnya aja, habisnya rin bacanya di perpus FKIP, secara bukan fakultas rin, ke perpus FKIP juga itu pas dapet tugas dari dosen, klo ga gitu mh ga bakal ke perpus FKIP, pengen seh lanjutin baca tu buku, tapi rin malu tiap hari mesti ke purpus FKIP cuma buat baca buku Laskar Pelangi, ya sudah rin menahan rasa penasaran ini.

Bisa seh minjem ke temen, tapi… temen-temen ga pada punya neh… bisa juga baca ebook nya, malahan rin punya… tapi karena ga penting-penting banget, jadi males bacanya *kan beda baca di kertas dengan baca di komputer*….hohohoho.

LASKAR PELANGI… karena banyak yang suka, trus buku nya jadi “best seller” dibikin deh film nya, waaaaaah… rin pengen nonton…. Bisnya males baca bukunya mending nonton filmnya…

“Rin kita nonton Laskar Pelangi yuk?” Kata siti pas kuliah Aljabar hari selasa tanggal 23 September.

“Hm… memangnya mo kapan?” kataku.

“Sabtu yuk? Atau kapan gitu, Rin kapan mudik?”

“Wah ga bisa rin hari Kamis dah ke jakarta…” kataku…


Berdosa rin karena rin udah boong ma siti, sebenernya rin berangkatnya tanggal 30 September, duh rin bulan puasa malah boong… ckckckckckc….

LASKAR PELANGI… masih juga menjadi pembicaraan temen-temen walaupun Lebaran telah lewat *kagak ngaruh kali rin*… pertama kali nya di bulan oktober menginjak daerah kampus *yang kukira kuliah ternyata dosennya masih pengen libur*.

“Hei jadi ga kita nonton?” kata Mar.

“Jadi…jadi… pada ikut ya? Kita nonton Laskar Pelangi…” Kata Ay.

Duh… mo pada nonton ya… mesti kabur neh…

“Rin ikut ya?” Kata Ay ke Rin.

“Heee…” kataku nyengir. “Kagak ach…”

“Kenapa?”


Waduh… pengen seh… lagipula ga enak juga nolak…. tapi… RIN HARUS NOLAK…

“Ga kenapa-kenapa… cuma pengen pulang aja.”

Yah… temanku yang tersayank kecewa deh… ya… mo gimana lagi….

Duh… sampe sekarang juga pengen seh nonton Laskar Pelangi, tapi ada sesuatu hal yang rin harus hindari...

Kita bercerita tentang terakhir rin nonton di bioskop yaitu pas film AAC, tapi sungguh rin NYESEL nonton di bioskop, rin juga sebenernya pas nonton di bioskop ngerasa ga nyaman. Dan rin waktu itu belum sadar….kenapa seh rin ngerasa ga nyaman?

Pas AAC keluar bajakannya, temen-temen di FKMI mendiskusikan film itu, dan dilihat dari pengalaman mereka nonton GA ADA YANG NONTON DI BIOSKOP, mereka kebanyakan nonton di televisi kesayangan mereka *entah dvd atau vcd*.

Dan rin ngerasa malu, karena rin merelakan diri rin untuk bersenang-senang dengan cara bercambur baur dengan bukan mahram rin. Klo untuk transportasi okelah, klo untuk belajar di kelas okelah, karena memang tidak ada cara lain, toh sistem Negara kita tidak mau mengatur hal-hal seperti itu, tapi klo untuk bersenang-senang apa kita juga harus okelah? Sementara kita bisa mengusahakan untuk menjauhinya?

Makanya… rin harus menahan diri untuk tidak penasaran dengan film LASKAR PELANGI. Bukunya ok, Filmnya juga *katanya* ok, cara menikmatinya juga harus ok dan di Ridhoi Allah SWT…

Ya to? apa tidak to?

[ Read More.. ]

Sabtu, 13 September 2008

[Ri2n Cerita] Nge-OSPEK

Yang tahun lalu di ospek, sekarang yang ngospek… kemarin tanggal 11-12 September 2008. Dan rin jadi panitianya, sempet seh dimarahin ma keluarga,. “Ngapain seh ikut-ikut kayak gitu, ntar capek!” yupz… memang bener capek, trus setiap rapat pulangnya malem mulu *dan bagi rin rapatnya itu ga efektif, masa rapat tiap hari, dan yang di omongin itu-itu aja*.

Rin masuk devisi kerohanian, koq ospek ada devisi kerohaniannya seh? Yupz… beberapa panitia ingin ada acara cami (calon mahasiswi) keputrian pada saat cama (calon mahasiswa) shalat Jumat.

Kesempatan besar! Itu adalah kesempatan besar bagi rin untuk mengenalkan FKMI di Univ Pakuan terutama di FMIPA . Secara orang itu kenalnya DKM mululu, sedangkan FKMI ga, sekaligus rin bisa menciptakan kader-kader penerus FKMI yang berasal dari FMIPA. Ini peluang besar. Dan aku bisa merencanakan semua.

Ketika aku melihat draft acara. Hm… keputrian hanya diberi waktu 45 menit “adik-adikku akan dapat apa?” batinku. Sempat rin mengajukan keberatan pada devisi acara, tapi tentu aku menjadi orang yang kalah! Dan mau ga mau aku terima acara keputrian yang singkat.

Tanggal 11 pertama kalinya aku menjadi panitia. Dan aku jadi salah satu panitia yang tidak bisa “JUTEX” terlalu lama. Tentu teman-temanku menegur “Depan mereka jangan senyum-senyum rin.”

“Iya…maaf.” Kataku.

Hari kedua menjadi panitia. Tanggal 12, disinilah moment yang sangat berharga buat rin, dan disinilah aku merasa menjadi orang yang GAGAL! Ketika waktu untuk keputrian dipangkas, 5 menit… 10 menit… dan sampai acara keputrian hanya diberi waktu 20 menit! Walaupun tidak ada yang disalahkan, tapi aku merasa GAGAL…

Mudah – mudahan… Allah memberi hidayah pada salah satu dari mereka.

Mudah – mudahan di waktu yang singkat ini, bisa memberi makna diantara mereka.

Tapi ada beberapa hal yang menyenangkan….huhuhuhu… sapa seh peserta P2SPT cami yang ga kenal rin? Yah.. beginilah jadi orang yang beda, jadi pusat perhatian orang-orang. *beda dari segi pakaian*


Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,
(QS 2: Al Baqarah ayat 155)


Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Apabila mendapat kelapangan, maka dia bersyukur dan itu kebaikan baginya. Dan, bila ditimpa kesempitan, maka dia bersabar, dan itu kebaikan baginya”.
(Ditakhrij Muslim, 8/125 dalam Az-Zuhud)

[ Read More.. ]

Rabu, 13 Agustus 2008

[Ri2n Cerita] Sapa yang mau?

"Rin..."

"Iya...?"

"Akhwat bogor ada yang siap nikah?"

"Hm.... ada..."

"Banyak ga?"

"Lumayan..."

"Hehehe.... SELAMAT MENUNGGU IKHWAN MENGKHIBAH deh..."

"Kukira dirimu mau..."

"Bilang "AKU INGIN MENIKAHIMU YA UKHTI" sih gampang...tapi klo dah ijab...baru konsekuensinya yang perlu dipikir...dan di matangkan...materi ada gak cukup...masih banyak yang laen.."

"Hm... payah..."

"Knapa payah rin...mang gitu kan...aku masih gak yakin klo ada akhwat yang mau dibawa susah..."

Hm ini lah cuplikan chat ku dengan seorang ikhwan yang sudah dipersingkat...

Ada kata-kata yang tidak asing, yang selalu ku dengar dari seorang COWOK yang sudah cukup umur untuk menikah, yaitu HIDUP SUSAH....

Pernah aku bicara ma salah satu temanku, dia adalah seorang ikhwan *ceile...* yang udah siap menikah *tapi katanya belum punya calon...hohohoho* ku pernah bilang gini ke dia...

"Nikah itu mudah, tapi ga murah, sesederhana apapun pernikahan itu tetap aja ga murah, sudah memikirkan sampe kesana belum?"

dan dia menjawab...

"Ooo ternyata kamu nggak mau diajak susah..."

wow....begitu jawabnya...

Hi para lelaki!! Apa kah segitu besarnya keinginanmu untuk mengajak istrimu hidup susah??

Kayak bukunya Iwan Januar, pernikahan kita memang bukan pernikahan Cinderela… iya aku juga tau, tapi bisa ga para lelaki itu buang jauh-jauh pikiran untuk mengajak para istrinya hidup susah?

Coba Cung Hand deh, siapa seh wanita yang mau hidup susah?

Tidak terlintas dalam benakku ingin pernikahan dengan Hidup yang Susah. Ya iyalah, klo dari awal tujuannya pengen hidup susah, ya seterusnya hidup bakalan susah, *omongan bisa jadi doa loh*

Kenapa ga diganti aja kalimatnya “Kamu mau ga menikah untuk menggapai keridhoan Allah?” atau “Kamu mau ga menikah untuk menggapai impian dan cita-cita bersama-sama?” dan masih banyak kalimat yang bisa diucapkan yang lebih baik dibandingkan HIDUP SUSAH.

NB : aku bawa2 dua ikhwan disini, bagi yang ngerasa jangan marah ya? Ini kan Cuma ungkapan hati seorang wanita, n bagi yang ngerasa jangan ngaku ya? ntar ketauan, yang malu ya diriku…

[ Read More.. ]

Rabu, 30 Juli 2008

[STORY] Bangga

Aku memandang kedepan, melihat kerumunan mobil angkutan berwarna hijau dan biru memenuhi jalan padjajaran, serta aktivitas orang-orang disekitarnya dengan kesibukan-kesibukan masing-masing, aku berdiri bersandar pada dinding, depan CFC, di Jambu dua, ditemani sepasang telepon umum coin yang sejak aku SMA sampai sekarang masih setia saja menempel di tembok, disebelahku ada perempuan muda yang dari gerak geriknya terlihat seperti sedang menunggu seseorang, sama seperti diriku, aku pun menunggu seseorang.

Aku melirik perempuan muda tadi, kuperhatikan dandanannya, hm… anak gaul ternyata, aku memang tidak tau apa nama dari setiap accesoris dan pakaian yang dia pakai, jadi aku tidak bisa menggambarkan dia memakai apa. tapi aku tau itu dandanan sebagian besar anak-anak perempuan muda zaman sekarang, kuperhatikan wajahnya, cantik… tapi jelas sekali cantik dempulan… fuh…. Ku menarik nafas panjang, mengasihani dirinya dalam hati.

Aku mengambil buku dalam tasku, dan sekalian melihat jam yang ditampilkan telepon genggamku. Masih jam 1, “kayaknya aku terlalu cepat datang” ujarku dalam hati, aku memulai membaca untuk memanfaatkan waktuku, ku baca kata per kata isi buku, ku buka lembar demi lembar setiap halaman. Wuuush…. Angin tiba-tiba bertiup pelan mengibarkan kerudung hitam dan jilbab merahku, aku memandang pantulan diriku dari dinding kaca CFC, entah kenapa aku selalu senang bila melihat bayangan diriku yang memakai kerudung yang lebar, dan jilbabku di kaca, dimanapun itu, aku merasa bangga menjadi wanita yang dilindungi dengan hukum Islam.

Selesai aku mengagumi anugrah yang telah diberikan Allah padaku, aku melanjutkan membaca bukuku. Tidak beberapa lama kemudian, teman-teman perempuan muda yang ada disebelahku datang, ada 3 perempuan sekarang yang ada di sebelahku, tidak kurang dari semenit, tempat mereka berdiri jadi rusuh, rame, dan ribut, membicarakan masalah fashion, style, love and boy. Aku yang sedang membaca jadi tidak bisa fokus, mau mendengarkan mereka berbicara pun aku tidak mengerti mereka itu ngomong apa.

“Eheem…” kataku berdeham pada mereka, dengan terus tetap sibuk dengan bukuku. Mereka lalu terdiam, dan sepertinya mereka ngerasa kalau mereka itu telah mengganggu keasyikanku.

Tapi ternyata diamnya mereka tidak sebentar, salah satu dari mereka dengan nada tinggi dan “nyolot” mulai berbicara “Eh temen-temen tau enggak tadi gw liat ada cewek dandanannya cupu abis deh, mau gaya tapi jadi keliatan norak!” katanya dengan nada lebih tinggi pada kata “norak”-nya.

“Tapi… biarpun tu cewek cupu, norak dan jadul, masih mending dibandingin cewek sebelah kiri gw, lebih jadul! Kayak gitu tuh dandanan orang-orang jaman dahulu kala.” Kata temannya yang lain dengan suara yang ga kalah tingginya.

Aku tahu mereka membicarakanku. Ku lalu menatap mereka. Dan mereka merespon terhadap tingkahku. “Waduh…liat deh bentar lagi kita bakal diceramahin, takuuut.” Ujar perempuan muda yang tadi berada disebelahku.

Aku menahan diriku untuk tidak marah, dan tidak terpancing emosi, lalu ku tersenyum kepada mereka. “Waduh… masih mending dibilang model orang-orang jaman dulu, daripada model manusia purba.” Lalu cepat-cepat ku pergi meninggalkan mereka dengan gaya anggunku, dan mencari tempat lain yang lebih jinak pengunjungnya.

[ Read More.. ]

Minggu, 13 Juli 2008

[Ri2n Cerita] Lo dan gw

"Rin.... lo aja napa yang ngerjain...."

"Koq gw seh?? gw males ach, suruh sapa keq... jangan gw mulu..."

"Ya ampyun... gitu doank aja kagak mau... bentar aja..."

"Ogah... gw sibuk sekarang...."

"Sibuk apa lo..."

"Sibuk menghindar dari lo!"

hm... pasti dianggapan kalian percakapan kayak gini adalah hal biasa... tapi gimana klo yang ngomong itu ternyata akhwat2 yang berjilbab? waduh ga kebayang deh....

jujur... ku dikampus juga kadang2 bicaranya pake "lo gw", anggapan temen2 yang ku ajak ngomong seh biasa aja, tapi kalau udah teteh2 FKMI yang denger atau aku kelepasan ngomong kayak gitu pasti pada bilang..."Ckckckckckc..."

Malu??? Iyaaaaa.... rin malu banget... aku ngerasain seh bahasa itu agak kasar...dan ga pantes diucapin oleh akhwat yang udah di cap "Baik" ma masyarakat karena jilbabnya...

"Tu cewek, dah pake jilbab, masa ngomongnya kasar?"

Makanya ku mau berubah... walaupun butuh proses...yang cukup lama...

pasti bisa... klo dibiasakan...huhuhuhu

*motivasi untuk diriku sendiri*

[ Read More.. ]

Sabtu, 24 Mei 2008

STORY : Saya Mampu

Pak Oman pagi-pagi sekali berangkat menuju sekolah SMPN x, beliau yang dulunya adalah Kepala Sekolah SMP di daerahnya, dipindah menjadi Kepala Sekolah di SMPN x. Dengan mengendarai motor nya, ia melewati setiap jalan, udara pagi menerpa badannya, membuat Pak Oman sedikit menggigil, tapi beliau merasa senang bisa menjadi kepala sekolah di SMPN x, karena selain SMP nya besar dan luas, di SMP tersebut juga termasuk SMP favorit. "Saya akan melakukan perubahan." Guman pak Oman.

Penyambutan Kepala Sekolah baru berjalan dengan lancar, pak Oman berkeliling sekolah, menghafal setiap sudut-sudut sekolah, memperhatikan murid-muridnya di setiap kelas, memperhatikan cara mengajar guru-gurunya. "Saya rasa sekolah ini memang sekolah yang baik dan berkualitas."

Sore hari, ruangan guru sepi, karena sebagian besar guru telah pulang, dan sisanya sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan, tapi seperti terburu-buru ingin cepat-cepat selesai. Pak Oman masih berada dalam ruangannya, santai memeriksa arsip-arsip sekolah, beliau ingin mengenal sekolah ini lebih dekat lagi.

"Pak saya pulang dulu ya pak." Kata Pak Gino.

"Saya juga pak mo pulang dulu." Kata Bu Maria.

"Ya silahkan, hati-hati, salam buat keluarga..." Kata Pak Oman dengan ramah.

"Makasih ya pak... Assalamualaikum..." Ujar Pak Gino sambil berlalu pergi diikuti bu Maria.

"Waalaikumsalam wr wb.." Lalu Pak Oman menyelesaikan tugasnya, sekolah sekarang begitu sepi. "Haaah..." beliau menghela napas panjang. "Minum kopi dulu ach...." Pak Oman menyeduh air panas kedalam gelas yang berisi kopi dan gula. Pak Oman keluar dari ruangannya sambil membawa kopi panas, lalu berjalan menuju kelas 2-b yang lumayan jauh dari ruangannya. "Sekali-sekali saya ingin merasakan duduk di tempat yang biasa murid-murid duduk." kata Pak Oman dalam hati. Pak Oman duduk di kursi paling belakang dan paling pojok sambil menikmati Kopi ditemani angin yang berhembus keluar masuk lewat jendela. Saat sedang asyik menikmati suasana hening di kelas. Tiba-tiba...

"Busyet!! Beneran lo ngelakuinnya di Sekolah? kagak ada yang tau gitu? guru-guru? Ayo lo ceritain dulu ke gw... duduk dulu... duduk dulu"

Terdengar suara seorang Laki-laki di sebelah kelasnya Pak Oman. Spontan kaget Pak Oman mendengar pernyataan anak tersebut. "Ngelakuin apa?" ucap beliau dalam hati dengan penasaran.

"Ya kagaklah... klo ketauan gw dah masuk BP kali....!" Ujar suara lain. Suara anak lelaki.

"Sampe apa aja lo ngelakuinnya?"

"Udah abis tu cewek ma gw.... mantep banget... lo kudu nyobain sekali-sekali."

Pak Oman kaget mendengarnya. Pikiran Negatif muncul.

"Yakin lo dibelakang ga bakalan ada yang tau??"

"Itu mah dah rahasia umum... kakak kelas aja ada yang pernah ngelakuin disitu!"

"Hahahahaha... Parah lo coy....!!! Tapi gw jg pengen ngerasain, ntar gw ma cewek gw..."

"Hahahahaha... bagi-bagi napa..."

Dada Pak Oman sesak mendengarnya... memang waktu ia berkeliling dia tidak memeriksa bagian belakang sekolah, pikiran nya tak tenang, beliau ingin marah, tapi tak bisa juga langsung menyalahkan muridnya. "Saya yang punya kuasa terhadap sekolah ini, dan saya yang harusnya bertanggung jawab terhadap masa depan murid-murid. Klo pun murid-murid bersalah, maka saya harus memperbaiki diri saya, mengapa saya tidak bisa mengendalikan mereka, padahal saya punya kuasa untuk merubahnya." Kata pak Oman dalam hati.

Esok paginya... pak Oman melakukan pekerjaan yang biasanya beliau lakukan. Tapi rasa penasaran dengan Cerita Belakang sekolah, masih tetap melekat dalam benaknya. Pak Oman tak sabar menunggu sore hari tiba. "Klo pun nanti tak terjadi apa-apa, besok, besoknya lagi, besok besoknya lagi sampai seterusnya asalkan saya mampu, akan tetap saya lakukan mengelilingi sekolah ini." Gumannya.

Sore hari yang di nantikan beliau pun tiba, disaat sekolah sepi, hanya ada beberapa anak-anak bermain basket, dan futsal di lapangan, dan beberapa anak-anak perempuan ngerumpi didalam kelas, jantung pak Oman berdetak kencang... pada saat berada di belakang sekolah dia melihat kantin kecil milik penjaga sekolah, lalu ia berjalan terus ke kanan, dia melihat ruangan tapi tidak seperti ruangan, karena tidak berpintu dan tidak berjendela, hanya berdinding semen, tapi ada jalan untuk bisa masuk kedalamnya. "ruang apa itu?" semakin mendekat ke ruangan itu, beliau mendengar nafas anak laki-laki dan perempuan, suara tawa genit seorang perempuan, mendengar hal itu, pak Oman mempercepat langkahnya, beliau sangat marah. Saat beliau sampai di ruangan tersebut, dia melihat sepasang muridnya sedang asyik bercumbu dan saling raba. Dan mereka tak sadar bahwa Kepala Sekolah sedang memperhatikan perbuatan mereka. "Ehem." Pak Oman berdehem keras.

Sepasang murid yang mendengar hal itu, langsung menghentikan dan melihat ke arah suara tersebut berasal. Kedua mata mereka melotot melihat Kepala Sekolah berdiri di depan mereka dengan tampang menahan marah yang luar biasa.

"Bapak..." Kata anak laki-laki itu salah tingkah, dan cengengesan.

Anak perempuan itu tak bisa berkata apa-apa... lalu ia pingsan.

"Bawa dia, dan kamu ke ruangan saya. Sekarang!!" kata pak Oman.

Sejak kejadian itu, sepasang murid itu ditindak lanjuti oleh BP, berita nya pun tersebar luas di SMP x, dan tak pernah ada lagi kejadian seperti itu (Sepengetahuannya Pak Oman).

Masihkah Pak Oman mengelilingi sekolah nya? Selama beliau mampu, beliau lakukan.

By : Ririn Ridho

[ Read More.. ]

Kamis, 08 Mei 2008

STORY : Kerupuk Pisang

Sore hari sangat panas dirumah, tubuhku bercucuran keringat, habis tadi main bola sama teman-temanku dilapangan sebelah mesjid.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam... aduh nak, badanmu kotor sekali, ayo sana mandi, bentar lagi ayahmu pulang." Kata ibuku.

"Ya ibu..." aku langsung menuju tempat yang di sebut ibu kamar mandi, ya... kamar mandi kami, terdapat sumur tua yang berdinding seng, dan beratapkan langit, ember hitam untuk menimba air sudah bolong disana sini, perlu perjuangan berat hanya untuk mendapatkan seember air...

"Kakak...." adek perempuanku memanggil ku saat aku keluar dari kamar mandi.

"Apa dek?" Kataku.

"Adek pengen kerupuknya Pak Ono. Adek pengen...." katanya dengan gelagat manja.

Aku menelan ludah mendengar permintaannya, hm... apa aku punya uang? "Bentar ya dek. kakak ganti baju dulu." kataku sambil masuk kekamar.

"Iya kakaaaak..." ujarnya... lalu ia berlari lari riang seperti kijang dirumah kecil ini.

Aku mengecek tabunganku, kemarin uangnya aku pake buat beli buku sekolah, sudah habis, aku membayangkan bau kerupuk yang digoreng pak Ono, ya... wanginya enak sekali, aku juga sebenarnya pengen, apalagi dimakan pada saat baru diangkat di penggorengan... uh hangat-hangat gurih... tapi mo gimana lagi... aku tidak punya uang...

Aku keluar dari kamarku. Dan adik kecilku sedang menungguku dengan setia.

"Jadi kakaaak??" katanya penuh harap.

Aku terdiam mendengarnya. "Iya dek jadi... ayo.." kataku. Aku berharap, saat diperjalanan nanti aku menemukan uang, atau bila tidak aku bisa meminjam temanku. Aku tidak mau mengecewakan adikku.

Aku menggandeng tangan adikku sambil melihat-lihat kejalan. Adikku melompat senang, dan diwajahnya terbaca kalo dia sedang membayangkan makan kerupuk buatan pak Ono. Tapi di sepanjang jalan aku tidak melihat ada uang, dan makin lama aku berjalan makin dekat aku dengan tempat pak Ono. Aku semakin khawatir. Sepanjang jalan aku hanya melihat pohon pisang. Dan... Aha!

"Dek bantuin kakak yuk cari daun pisang yang bagus-bagus." kataku.

"Buat apa kak?"

"Ya udah bantuin kakak sebentar."

Lalu kami berdua mencari daun pisang di kebon, mencari daun pisang yang terbaik, dan yang besar-besar. Setelah dirasa cukup banyak, aku kerumahnya pak Ono bersama adikku sambil memikul daun-daun pisang.

"Pak Ono... tukar kerupuk dengan daun pisang ya pak?" Kataku.

Pak Ono terdiam, lalu ia pun tersenyum. Ia mengambil daun pisang di tanganku. Lalu ia masuk kedalam rumahnya. beberapa menit kemudian ia keluar membawa kerupuk-kerupuk dibungkus dengan daun pisang. "Nih, makasih ya dek..." Kata pak Ono.

Adikku bersorak-sorak riang, dan kami menikmati kerupuk itu berdua.

*Kisah Khayalan, di jaman dulu mungkin kayak gini kali ya....*

By : Ririn R

[ Read More.. ]

Selasa, 06 Mei 2008

STORY : Athina tersenyum...

Ceritanya dari sudut pandang penulis tentang apa yang dilihat oleh Athina

“Brak!” Athina melemparkan tasnya ke pintu. Lalu ia merebahkan tubuhnya dengan kasar ke tempat tidurnya. Ia menutup kedua matanya dengan tangannya. Ia gigit bibir bawahnya.

“Hiks…” Isaknya, Athina berusaha untuk tidak menangis, tapi air hangat itu terus mengalir dari mata indahnya. Athina mengubah posisinya. Bantalnya basah oleh airmatanya. “Kenapa begini seh?” Athina terus mengusap-usap kedua matanya, dengan tangan, bajunya, bantalnya, selimutnya, tapi airmata ini tak mau berhenti. Athina pasrah, ia kalah dengan air matanya sendiri, ia biarkan air matanya menggelitik pipinya. Ia terdiam memikirkan sesuatu. “Hah!” Athina bangkit dari tempat tidurnya, menuju ke tempat dimana ia melempar tasnya. “Hape…Hape… mampus gw klo ampe rusak…” Athina mencari-cari Hapenya di dalam tasnya. “Waaaaah… syukurlah gapapa, hapeku sayank…”

Athina duduk di depan kampusnya bersama teman-temannya. “Ach…” Athina melihat Pi, dia berjalan menuju kantin belakang dan Pi melirik Athina yang pada saat itu Athina sedang melihatnya. Pi tersenyum melambaikan tangannya ke arah Athina. Tapi Athina memalingkan wajahnya ke arah lain, seakan-akan tak memperdulikannya.

Athina menelepon temannya yang satu jurusan dengan Pi, “Hi Pan, ni Athina, pa kabar? Sombong ya… ga pernah kasih kabar.” Athina berusaha menceriakan suaranya. “Hm… Pan, tu bener cewek nya Pi?” Athina memberanikan diri mendengar jawabannya. Lalu ia terdiam… “Hm… syukurlah klo dia dah punya cewek, ceweknya cantik lagi…” Athina menahan perasaan untuk tidak menangis. “Cemburu? Sapa yang cemburu, Athina malah seneng banget…. Iya… masa ga percaya seh?? Hehehehehe….” Athina yang malang, ia tidak bias menahan diri, lagi-lagi ia dikalahkan dengan perasaannya. Ia meneteskan air matanya. “Aduh Pan… gw ga tahan neh pengen kekamar mandi, dah dulu ya….” Athina menutup teleponnya. “Apa yang salah dengan Athina?”

Athina kesal dengan hari Jumat, karena mata kuliahnya disatukan dengan anak-anak kelas Pi, tapi mau tidak mau Athina harus masuk kuliah. Athina masuk ke dalam kelas, dan duduk di kursi paling belakang. Athina melihat kalau Pi memperhatikannya, Athina senang bisa bertemu Pi, tapi kemudian ia kesal ketika melihat perempuan di sebelahnya. Pi memanggilnya dengan suara keras, tapi Athina pura-pura tidak mendengarnya dan bercanda dengan teman-temannya. Dan Pi pun tidak memanggilnya lagi.

Saat mata kuliah itu selesai, Pi menarik tasnya, ia bilang ke Athina klo Athina sombong sama Pi, Athina menatapnya lalu tersenyum, “Ga ada apa-apa” dan menjauhinya. Lalu Athina melihat Pi menuruni tangga berjalan berdua dengan perempuan itu. Athina marah, Athina tidak lagi sedih, Athina benci Pi.

Athina mendapat sms dari Pi, Pi bertanya ke Athina, kenapa Athina berubah sikap sama Pi, Pi lalu mengajak Athina ketemuan di suatu tempat, Athina menjawab sms Pi. “Ok, besok di kampus jam 8”

Athina janjian sama Pi jam 8, tapi Athina berangkat dari rumah jam 9, “Biar aja dia nunggu.” Ujar Athina dalam hati. Pi dah khawatir Athina ga dateng, tapi Pi tetap nungguin Athina.

Athina datang, lalu duduk disamping Pi, “Pi mo Tanya apa ma Athina?” Pi lalu membeberkan semua pertanyaannya selama ini tentang sikap Athina yang berubah. Athina tersenyum. “Bodoh.” Kata Athina. “Athina berpikir kalo Pi bisa menjaga perasaan Athina, Athina percaya setiap omongan Pi, tapi ternyata Athina yang salah telah percaya, Athina Cuma berusaha melupakan penyakit hati di diri Athina dengan cara ini, kalau udah sembuh Athina akan bersikap seperti biasanya lagi.” Athina tersenyum, tapi senyumannya lebih indah, Athina merasa nyaman. Athina puas… Athina telah berpikir dewasa untuk menjadi dewasa. Pi meminta maaf karena sudah mengingkari janji. Athina hanya menjawab dengan senyuman. Ketika itu Athina membentuk prinsip untuk tidak menyukai orang lagi… entah berakhir sampai kapan.

Athina sekarang terlihat lebih cantik, banyak sekali lelaki yang memujanya. Banyak yang berkata hal-hal yang berkaitan dengan cinta, suka, dan sayang kepada Athina. Tapi Athina sudah bukan perempuan yang mudah untuk ditaklukan, Athina hanya menjawab mereka dengan senyuman. Athina pernah ditanya oleh temannya, siapakah lelaki yang Athina cari, lalu Athina menjawab. “Athina mencari pangeran yang tampan akhlaknya, dengan kuda putihnya membawa Athina menuju jalan ke surga, dan mempunyai harta ilmu-ilmu yang bermanfaat.”

By : Ririn R

[ Read More.. ]

Senin, 21 April 2008

[Ri2n Cerita] Maaf aja ga cukup bu...

Yaaaaaah.... bukannya suasana hati rin yang lagi bersambung... tapi ternyata rin dapet inspirasi untuk menuliskan sesuatu...

Kan kemaren2 pernah nulis blog yang judulnya "Kamu Aku...." sekarang udah baekan lagi ma orangnya walaupun udah ga sedeket dulu...

Trus beberapa bulan kemudian dia buat suatu kesalahan kecil, hm... menurut dia seh ga salah, tapi rin ga suka caranya, ya sudah rin blak2an bilang ga suka... walaupun sepele tapi kan untuk perbaikan kudu dikasih tau dari sekarang...

"Rin mo maafin kan?" kata dia.

Rin jawab aja..."Aduuuuh... klo masalah yang besar aja bisa rin maafin, apalagi masalah kayak gini...?"

*Jadi ceritanya rin curhat neh??

eeeeh... sabar dulu... rin ga curhat koq... cuma cerita doank... (apa bedanya yak...??)

pas ngomong kayak gitu... langsung deh tiba2 backgroundnya berubah jadi warna hitam lalu kayak ada 1 garis cahaya berkecepatan tinggi melintas melewati kepalaku...(kayak di komik2 kan begitu tuh klo lagi dapet ide)

Hm... rin sadar... rin banyak banget ya buat dosa, disadari ataupun tidak disadari, tapi setiap rin minta maaf pasti selalu dimaafin... Allah kan Maha Pengampun segala dosa...

Tapi seperti orang2 bilang..."Kata maaf saja ga cukup..."

Kenapa ga cukup?? maaf saja tanpa ada keinginan untuk memperbaiki diri ga ada nilainya...

Sesudah buat dosa, minta maaf, trus buat dosa lagi... (Aduh CPD)

Klo aja... ada temen kita yang buat salah, dia minta maaf trus kita maafin... eh ternyata besok2 dia ngelakuin kesalahan yang sama... (rin seh pasti kesel...)

Maaf bukan hanya sekedar di ucapkan di bibir atau dihati.... tapi Maaf harus disertai dengan perbuatan untuk merubah diri menjadi lebih baik, dan berjanji untuk tidak mengulanginya....

Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu telah berkata :
Aku mendengar Rassulullah S.A.W bersabda :
Sesungguhnya Allah berfirman (maksud) : Wahai anak Adam! Apabila engkau memohon dan mengharapkan pertolonganKu maka Aku akan mengampunimu dan Aku tidak menganggap bahawa ia suatu yang bebanan. Wahai anak Adam! Sekalipun dosa kamu seperti awan meliputi langit kemudian kamu memohon keampunanKu, nescaya Aku akan mengampuninya. Wahai anak Adam! Jika kamu menemuiku(selepas mati) dengan kesalahan sebesar bumi, kemudiannya kamu menemuiKu dalam keadaan tidak syirik kepadaKu dengan sesuatu nescaya Aku akan datang kepadamu dengan pengampunan terhadap dosa sebesar bumi itu.
- Riwayat imam Tarmizi dan kata beliau ia adalah hadis Hasan Sohih -

[ Read More.. ]