Selamat Datang di BLOG RINZI,PERJALANAN MENGGAPAI RIDHO ILLAHI

Rabu, 30 Juli 2008

[STORY] Bangga

Aku memandang kedepan, melihat kerumunan mobil angkutan berwarna hijau dan biru memenuhi jalan padjajaran, serta aktivitas orang-orang disekitarnya dengan kesibukan-kesibukan masing-masing, aku berdiri bersandar pada dinding, depan CFC, di Jambu dua, ditemani sepasang telepon umum coin yang sejak aku SMA sampai sekarang masih setia saja menempel di tembok, disebelahku ada perempuan muda yang dari gerak geriknya terlihat seperti sedang menunggu seseorang, sama seperti diriku, aku pun menunggu seseorang.

Aku melirik perempuan muda tadi, kuperhatikan dandanannya, hm… anak gaul ternyata, aku memang tidak tau apa nama dari setiap accesoris dan pakaian yang dia pakai, jadi aku tidak bisa menggambarkan dia memakai apa. tapi aku tau itu dandanan sebagian besar anak-anak perempuan muda zaman sekarang, kuperhatikan wajahnya, cantik… tapi jelas sekali cantik dempulan… fuh…. Ku menarik nafas panjang, mengasihani dirinya dalam hati.

Aku mengambil buku dalam tasku, dan sekalian melihat jam yang ditampilkan telepon genggamku. Masih jam 1, “kayaknya aku terlalu cepat datang” ujarku dalam hati, aku memulai membaca untuk memanfaatkan waktuku, ku baca kata per kata isi buku, ku buka lembar demi lembar setiap halaman. Wuuush…. Angin tiba-tiba bertiup pelan mengibarkan kerudung hitam dan jilbab merahku, aku memandang pantulan diriku dari dinding kaca CFC, entah kenapa aku selalu senang bila melihat bayangan diriku yang memakai kerudung yang lebar, dan jilbabku di kaca, dimanapun itu, aku merasa bangga menjadi wanita yang dilindungi dengan hukum Islam.

Selesai aku mengagumi anugrah yang telah diberikan Allah padaku, aku melanjutkan membaca bukuku. Tidak beberapa lama kemudian, teman-teman perempuan muda yang ada disebelahku datang, ada 3 perempuan sekarang yang ada di sebelahku, tidak kurang dari semenit, tempat mereka berdiri jadi rusuh, rame, dan ribut, membicarakan masalah fashion, style, love and boy. Aku yang sedang membaca jadi tidak bisa fokus, mau mendengarkan mereka berbicara pun aku tidak mengerti mereka itu ngomong apa.

“Eheem…” kataku berdeham pada mereka, dengan terus tetap sibuk dengan bukuku. Mereka lalu terdiam, dan sepertinya mereka ngerasa kalau mereka itu telah mengganggu keasyikanku.

Tapi ternyata diamnya mereka tidak sebentar, salah satu dari mereka dengan nada tinggi dan “nyolot” mulai berbicara “Eh temen-temen tau enggak tadi gw liat ada cewek dandanannya cupu abis deh, mau gaya tapi jadi keliatan norak!” katanya dengan nada lebih tinggi pada kata “norak”-nya.

“Tapi… biarpun tu cewek cupu, norak dan jadul, masih mending dibandingin cewek sebelah kiri gw, lebih jadul! Kayak gitu tuh dandanan orang-orang jaman dahulu kala.” Kata temannya yang lain dengan suara yang ga kalah tingginya.

Aku tahu mereka membicarakanku. Ku lalu menatap mereka. Dan mereka merespon terhadap tingkahku. “Waduh…liat deh bentar lagi kita bakal diceramahin, takuuut.” Ujar perempuan muda yang tadi berada disebelahku.

Aku menahan diriku untuk tidak marah, dan tidak terpancing emosi, lalu ku tersenyum kepada mereka. “Waduh… masih mending dibilang model orang-orang jaman dulu, daripada model manusia purba.” Lalu cepat-cepat ku pergi meninggalkan mereka dengan gaya anggunku, dan mencari tempat lain yang lebih jinak pengunjungnya.

[ Read More.. ]

Minggu, 13 Juli 2008

[Ri2n Cerita] Lo dan gw

"Rin.... lo aja napa yang ngerjain...."

"Koq gw seh?? gw males ach, suruh sapa keq... jangan gw mulu..."

"Ya ampyun... gitu doank aja kagak mau... bentar aja..."

"Ogah... gw sibuk sekarang...."

"Sibuk apa lo..."

"Sibuk menghindar dari lo!"

hm... pasti dianggapan kalian percakapan kayak gini adalah hal biasa... tapi gimana klo yang ngomong itu ternyata akhwat2 yang berjilbab? waduh ga kebayang deh....

jujur... ku dikampus juga kadang2 bicaranya pake "lo gw", anggapan temen2 yang ku ajak ngomong seh biasa aja, tapi kalau udah teteh2 FKMI yang denger atau aku kelepasan ngomong kayak gitu pasti pada bilang..."Ckckckckckc..."

Malu??? Iyaaaaa.... rin malu banget... aku ngerasain seh bahasa itu agak kasar...dan ga pantes diucapin oleh akhwat yang udah di cap "Baik" ma masyarakat karena jilbabnya...

"Tu cewek, dah pake jilbab, masa ngomongnya kasar?"

Makanya ku mau berubah... walaupun butuh proses...yang cukup lama...

pasti bisa... klo dibiasakan...huhuhuhu

*motivasi untuk diriku sendiri*

[ Read More.. ]

Sabtu, 24 Mei 2008

STORY : Saya Mampu

Pak Oman pagi-pagi sekali berangkat menuju sekolah SMPN x, beliau yang dulunya adalah Kepala Sekolah SMP di daerahnya, dipindah menjadi Kepala Sekolah di SMPN x. Dengan mengendarai motor nya, ia melewati setiap jalan, udara pagi menerpa badannya, membuat Pak Oman sedikit menggigil, tapi beliau merasa senang bisa menjadi kepala sekolah di SMPN x, karena selain SMP nya besar dan luas, di SMP tersebut juga termasuk SMP favorit. "Saya akan melakukan perubahan." Guman pak Oman.

Penyambutan Kepala Sekolah baru berjalan dengan lancar, pak Oman berkeliling sekolah, menghafal setiap sudut-sudut sekolah, memperhatikan murid-muridnya di setiap kelas, memperhatikan cara mengajar guru-gurunya. "Saya rasa sekolah ini memang sekolah yang baik dan berkualitas."

Sore hari, ruangan guru sepi, karena sebagian besar guru telah pulang, dan sisanya sedang menyelesaikan beberapa pekerjaan, tapi seperti terburu-buru ingin cepat-cepat selesai. Pak Oman masih berada dalam ruangannya, santai memeriksa arsip-arsip sekolah, beliau ingin mengenal sekolah ini lebih dekat lagi.

"Pak saya pulang dulu ya pak." Kata Pak Gino.

"Saya juga pak mo pulang dulu." Kata Bu Maria.

"Ya silahkan, hati-hati, salam buat keluarga..." Kata Pak Oman dengan ramah.

"Makasih ya pak... Assalamualaikum..." Ujar Pak Gino sambil berlalu pergi diikuti bu Maria.

"Waalaikumsalam wr wb.." Lalu Pak Oman menyelesaikan tugasnya, sekolah sekarang begitu sepi. "Haaah..." beliau menghela napas panjang. "Minum kopi dulu ach...." Pak Oman menyeduh air panas kedalam gelas yang berisi kopi dan gula. Pak Oman keluar dari ruangannya sambil membawa kopi panas, lalu berjalan menuju kelas 2-b yang lumayan jauh dari ruangannya. "Sekali-sekali saya ingin merasakan duduk di tempat yang biasa murid-murid duduk." kata Pak Oman dalam hati. Pak Oman duduk di kursi paling belakang dan paling pojok sambil menikmati Kopi ditemani angin yang berhembus keluar masuk lewat jendela. Saat sedang asyik menikmati suasana hening di kelas. Tiba-tiba...

"Busyet!! Beneran lo ngelakuinnya di Sekolah? kagak ada yang tau gitu? guru-guru? Ayo lo ceritain dulu ke gw... duduk dulu... duduk dulu"

Terdengar suara seorang Laki-laki di sebelah kelasnya Pak Oman. Spontan kaget Pak Oman mendengar pernyataan anak tersebut. "Ngelakuin apa?" ucap beliau dalam hati dengan penasaran.

"Ya kagaklah... klo ketauan gw dah masuk BP kali....!" Ujar suara lain. Suara anak lelaki.

"Sampe apa aja lo ngelakuinnya?"

"Udah abis tu cewek ma gw.... mantep banget... lo kudu nyobain sekali-sekali."

Pak Oman kaget mendengarnya. Pikiran Negatif muncul.

"Yakin lo dibelakang ga bakalan ada yang tau??"

"Itu mah dah rahasia umum... kakak kelas aja ada yang pernah ngelakuin disitu!"

"Hahahahaha... Parah lo coy....!!! Tapi gw jg pengen ngerasain, ntar gw ma cewek gw..."

"Hahahahaha... bagi-bagi napa..."

Dada Pak Oman sesak mendengarnya... memang waktu ia berkeliling dia tidak memeriksa bagian belakang sekolah, pikiran nya tak tenang, beliau ingin marah, tapi tak bisa juga langsung menyalahkan muridnya. "Saya yang punya kuasa terhadap sekolah ini, dan saya yang harusnya bertanggung jawab terhadap masa depan murid-murid. Klo pun murid-murid bersalah, maka saya harus memperbaiki diri saya, mengapa saya tidak bisa mengendalikan mereka, padahal saya punya kuasa untuk merubahnya." Kata pak Oman dalam hati.

Esok paginya... pak Oman melakukan pekerjaan yang biasanya beliau lakukan. Tapi rasa penasaran dengan Cerita Belakang sekolah, masih tetap melekat dalam benaknya. Pak Oman tak sabar menunggu sore hari tiba. "Klo pun nanti tak terjadi apa-apa, besok, besoknya lagi, besok besoknya lagi sampai seterusnya asalkan saya mampu, akan tetap saya lakukan mengelilingi sekolah ini." Gumannya.

Sore hari yang di nantikan beliau pun tiba, disaat sekolah sepi, hanya ada beberapa anak-anak bermain basket, dan futsal di lapangan, dan beberapa anak-anak perempuan ngerumpi didalam kelas, jantung pak Oman berdetak kencang... pada saat berada di belakang sekolah dia melihat kantin kecil milik penjaga sekolah, lalu ia berjalan terus ke kanan, dia melihat ruangan tapi tidak seperti ruangan, karena tidak berpintu dan tidak berjendela, hanya berdinding semen, tapi ada jalan untuk bisa masuk kedalamnya. "ruang apa itu?" semakin mendekat ke ruangan itu, beliau mendengar nafas anak laki-laki dan perempuan, suara tawa genit seorang perempuan, mendengar hal itu, pak Oman mempercepat langkahnya, beliau sangat marah. Saat beliau sampai di ruangan tersebut, dia melihat sepasang muridnya sedang asyik bercumbu dan saling raba. Dan mereka tak sadar bahwa Kepala Sekolah sedang memperhatikan perbuatan mereka. "Ehem." Pak Oman berdehem keras.

Sepasang murid yang mendengar hal itu, langsung menghentikan dan melihat ke arah suara tersebut berasal. Kedua mata mereka melotot melihat Kepala Sekolah berdiri di depan mereka dengan tampang menahan marah yang luar biasa.

"Bapak..." Kata anak laki-laki itu salah tingkah, dan cengengesan.

Anak perempuan itu tak bisa berkata apa-apa... lalu ia pingsan.

"Bawa dia, dan kamu ke ruangan saya. Sekarang!!" kata pak Oman.

Sejak kejadian itu, sepasang murid itu ditindak lanjuti oleh BP, berita nya pun tersebar luas di SMP x, dan tak pernah ada lagi kejadian seperti itu (Sepengetahuannya Pak Oman).

Masihkah Pak Oman mengelilingi sekolah nya? Selama beliau mampu, beliau lakukan.

By : Ririn Ridho

[ Read More.. ]

Kamis, 08 Mei 2008

STORY : Kerupuk Pisang

Sore hari sangat panas dirumah, tubuhku bercucuran keringat, habis tadi main bola sama teman-temanku dilapangan sebelah mesjid.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam... aduh nak, badanmu kotor sekali, ayo sana mandi, bentar lagi ayahmu pulang." Kata ibuku.

"Ya ibu..." aku langsung menuju tempat yang di sebut ibu kamar mandi, ya... kamar mandi kami, terdapat sumur tua yang berdinding seng, dan beratapkan langit, ember hitam untuk menimba air sudah bolong disana sini, perlu perjuangan berat hanya untuk mendapatkan seember air...

"Kakak...." adek perempuanku memanggil ku saat aku keluar dari kamar mandi.

"Apa dek?" Kataku.

"Adek pengen kerupuknya Pak Ono. Adek pengen...." katanya dengan gelagat manja.

Aku menelan ludah mendengar permintaannya, hm... apa aku punya uang? "Bentar ya dek. kakak ganti baju dulu." kataku sambil masuk kekamar.

"Iya kakaaaak..." ujarnya... lalu ia berlari lari riang seperti kijang dirumah kecil ini.

Aku mengecek tabunganku, kemarin uangnya aku pake buat beli buku sekolah, sudah habis, aku membayangkan bau kerupuk yang digoreng pak Ono, ya... wanginya enak sekali, aku juga sebenarnya pengen, apalagi dimakan pada saat baru diangkat di penggorengan... uh hangat-hangat gurih... tapi mo gimana lagi... aku tidak punya uang...

Aku keluar dari kamarku. Dan adik kecilku sedang menungguku dengan setia.

"Jadi kakaaak??" katanya penuh harap.

Aku terdiam mendengarnya. "Iya dek jadi... ayo.." kataku. Aku berharap, saat diperjalanan nanti aku menemukan uang, atau bila tidak aku bisa meminjam temanku. Aku tidak mau mengecewakan adikku.

Aku menggandeng tangan adikku sambil melihat-lihat kejalan. Adikku melompat senang, dan diwajahnya terbaca kalo dia sedang membayangkan makan kerupuk buatan pak Ono. Tapi di sepanjang jalan aku tidak melihat ada uang, dan makin lama aku berjalan makin dekat aku dengan tempat pak Ono. Aku semakin khawatir. Sepanjang jalan aku hanya melihat pohon pisang. Dan... Aha!

"Dek bantuin kakak yuk cari daun pisang yang bagus-bagus." kataku.

"Buat apa kak?"

"Ya udah bantuin kakak sebentar."

Lalu kami berdua mencari daun pisang di kebon, mencari daun pisang yang terbaik, dan yang besar-besar. Setelah dirasa cukup banyak, aku kerumahnya pak Ono bersama adikku sambil memikul daun-daun pisang.

"Pak Ono... tukar kerupuk dengan daun pisang ya pak?" Kataku.

Pak Ono terdiam, lalu ia pun tersenyum. Ia mengambil daun pisang di tanganku. Lalu ia masuk kedalam rumahnya. beberapa menit kemudian ia keluar membawa kerupuk-kerupuk dibungkus dengan daun pisang. "Nih, makasih ya dek..." Kata pak Ono.

Adikku bersorak-sorak riang, dan kami menikmati kerupuk itu berdua.

*Kisah Khayalan, di jaman dulu mungkin kayak gini kali ya....*

By : Ririn R

[ Read More.. ]

Selasa, 06 Mei 2008

STORY : Athina tersenyum...

Ceritanya dari sudut pandang penulis tentang apa yang dilihat oleh Athina

“Brak!” Athina melemparkan tasnya ke pintu. Lalu ia merebahkan tubuhnya dengan kasar ke tempat tidurnya. Ia menutup kedua matanya dengan tangannya. Ia gigit bibir bawahnya.

“Hiks…” Isaknya, Athina berusaha untuk tidak menangis, tapi air hangat itu terus mengalir dari mata indahnya. Athina mengubah posisinya. Bantalnya basah oleh airmatanya. “Kenapa begini seh?” Athina terus mengusap-usap kedua matanya, dengan tangan, bajunya, bantalnya, selimutnya, tapi airmata ini tak mau berhenti. Athina pasrah, ia kalah dengan air matanya sendiri, ia biarkan air matanya menggelitik pipinya. Ia terdiam memikirkan sesuatu. “Hah!” Athina bangkit dari tempat tidurnya, menuju ke tempat dimana ia melempar tasnya. “Hape…Hape… mampus gw klo ampe rusak…” Athina mencari-cari Hapenya di dalam tasnya. “Waaaaah… syukurlah gapapa, hapeku sayank…”

Athina duduk di depan kampusnya bersama teman-temannya. “Ach…” Athina melihat Pi, dia berjalan menuju kantin belakang dan Pi melirik Athina yang pada saat itu Athina sedang melihatnya. Pi tersenyum melambaikan tangannya ke arah Athina. Tapi Athina memalingkan wajahnya ke arah lain, seakan-akan tak memperdulikannya.

Athina menelepon temannya yang satu jurusan dengan Pi, “Hi Pan, ni Athina, pa kabar? Sombong ya… ga pernah kasih kabar.” Athina berusaha menceriakan suaranya. “Hm… Pan, tu bener cewek nya Pi?” Athina memberanikan diri mendengar jawabannya. Lalu ia terdiam… “Hm… syukurlah klo dia dah punya cewek, ceweknya cantik lagi…” Athina menahan perasaan untuk tidak menangis. “Cemburu? Sapa yang cemburu, Athina malah seneng banget…. Iya… masa ga percaya seh?? Hehehehehe….” Athina yang malang, ia tidak bias menahan diri, lagi-lagi ia dikalahkan dengan perasaannya. Ia meneteskan air matanya. “Aduh Pan… gw ga tahan neh pengen kekamar mandi, dah dulu ya….” Athina menutup teleponnya. “Apa yang salah dengan Athina?”

Athina kesal dengan hari Jumat, karena mata kuliahnya disatukan dengan anak-anak kelas Pi, tapi mau tidak mau Athina harus masuk kuliah. Athina masuk ke dalam kelas, dan duduk di kursi paling belakang. Athina melihat kalau Pi memperhatikannya, Athina senang bisa bertemu Pi, tapi kemudian ia kesal ketika melihat perempuan di sebelahnya. Pi memanggilnya dengan suara keras, tapi Athina pura-pura tidak mendengarnya dan bercanda dengan teman-temannya. Dan Pi pun tidak memanggilnya lagi.

Saat mata kuliah itu selesai, Pi menarik tasnya, ia bilang ke Athina klo Athina sombong sama Pi, Athina menatapnya lalu tersenyum, “Ga ada apa-apa” dan menjauhinya. Lalu Athina melihat Pi menuruni tangga berjalan berdua dengan perempuan itu. Athina marah, Athina tidak lagi sedih, Athina benci Pi.

Athina mendapat sms dari Pi, Pi bertanya ke Athina, kenapa Athina berubah sikap sama Pi, Pi lalu mengajak Athina ketemuan di suatu tempat, Athina menjawab sms Pi. “Ok, besok di kampus jam 8”

Athina janjian sama Pi jam 8, tapi Athina berangkat dari rumah jam 9, “Biar aja dia nunggu.” Ujar Athina dalam hati. Pi dah khawatir Athina ga dateng, tapi Pi tetap nungguin Athina.

Athina datang, lalu duduk disamping Pi, “Pi mo Tanya apa ma Athina?” Pi lalu membeberkan semua pertanyaannya selama ini tentang sikap Athina yang berubah. Athina tersenyum. “Bodoh.” Kata Athina. “Athina berpikir kalo Pi bisa menjaga perasaan Athina, Athina percaya setiap omongan Pi, tapi ternyata Athina yang salah telah percaya, Athina Cuma berusaha melupakan penyakit hati di diri Athina dengan cara ini, kalau udah sembuh Athina akan bersikap seperti biasanya lagi.” Athina tersenyum, tapi senyumannya lebih indah, Athina merasa nyaman. Athina puas… Athina telah berpikir dewasa untuk menjadi dewasa. Pi meminta maaf karena sudah mengingkari janji. Athina hanya menjawab dengan senyuman. Ketika itu Athina membentuk prinsip untuk tidak menyukai orang lagi… entah berakhir sampai kapan.

Athina sekarang terlihat lebih cantik, banyak sekali lelaki yang memujanya. Banyak yang berkata hal-hal yang berkaitan dengan cinta, suka, dan sayang kepada Athina. Tapi Athina sudah bukan perempuan yang mudah untuk ditaklukan, Athina hanya menjawab mereka dengan senyuman. Athina pernah ditanya oleh temannya, siapakah lelaki yang Athina cari, lalu Athina menjawab. “Athina mencari pangeran yang tampan akhlaknya, dengan kuda putihnya membawa Athina menuju jalan ke surga, dan mempunyai harta ilmu-ilmu yang bermanfaat.”

By : Ririn R

[ Read More.. ]

Senin, 21 April 2008

[Ri2n Cerita] Maaf aja ga cukup bu...

Yaaaaaah.... bukannya suasana hati rin yang lagi bersambung... tapi ternyata rin dapet inspirasi untuk menuliskan sesuatu...

Kan kemaren2 pernah nulis blog yang judulnya "Kamu Aku...." sekarang udah baekan lagi ma orangnya walaupun udah ga sedeket dulu...

Trus beberapa bulan kemudian dia buat suatu kesalahan kecil, hm... menurut dia seh ga salah, tapi rin ga suka caranya, ya sudah rin blak2an bilang ga suka... walaupun sepele tapi kan untuk perbaikan kudu dikasih tau dari sekarang...

"Rin mo maafin kan?" kata dia.

Rin jawab aja..."Aduuuuh... klo masalah yang besar aja bisa rin maafin, apalagi masalah kayak gini...?"

*Jadi ceritanya rin curhat neh??

eeeeh... sabar dulu... rin ga curhat koq... cuma cerita doank... (apa bedanya yak...??)

pas ngomong kayak gitu... langsung deh tiba2 backgroundnya berubah jadi warna hitam lalu kayak ada 1 garis cahaya berkecepatan tinggi melintas melewati kepalaku...(kayak di komik2 kan begitu tuh klo lagi dapet ide)

Hm... rin sadar... rin banyak banget ya buat dosa, disadari ataupun tidak disadari, tapi setiap rin minta maaf pasti selalu dimaafin... Allah kan Maha Pengampun segala dosa...

Tapi seperti orang2 bilang..."Kata maaf saja ga cukup..."

Kenapa ga cukup?? maaf saja tanpa ada keinginan untuk memperbaiki diri ga ada nilainya...

Sesudah buat dosa, minta maaf, trus buat dosa lagi... (Aduh CPD)

Klo aja... ada temen kita yang buat salah, dia minta maaf trus kita maafin... eh ternyata besok2 dia ngelakuin kesalahan yang sama... (rin seh pasti kesel...)

Maaf bukan hanya sekedar di ucapkan di bibir atau dihati.... tapi Maaf harus disertai dengan perbuatan untuk merubah diri menjadi lebih baik, dan berjanji untuk tidak mengulanginya....

Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu telah berkata :
Aku mendengar Rassulullah S.A.W bersabda :
Sesungguhnya Allah berfirman (maksud) : Wahai anak Adam! Apabila engkau memohon dan mengharapkan pertolonganKu maka Aku akan mengampunimu dan Aku tidak menganggap bahawa ia suatu yang bebanan. Wahai anak Adam! Sekalipun dosa kamu seperti awan meliputi langit kemudian kamu memohon keampunanKu, nescaya Aku akan mengampuninya. Wahai anak Adam! Jika kamu menemuiku(selepas mati) dengan kesalahan sebesar bumi, kemudiannya kamu menemuiKu dalam keadaan tidak syirik kepadaKu dengan sesuatu nescaya Aku akan datang kepadamu dengan pengampunan terhadap dosa sebesar bumi itu.
- Riwayat imam Tarmizi dan kata beliau ia adalah hadis Hasan Sohih -

[ Read More.. ]

Beliau pasti Sedih

Dalam buku Kartini yang fenomenal berjudul Door Duisternis Tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang, ibu kita saat itu menuliskan kegelisahan hatinya menyaksikan wanita Jawa yang terkungkung adat sedemikian rupa. Tujuan utama beliau menginginkan hak pendidikan untuk kaum wanita sama dengan laki-laki, tidak lebih. Ia begitu prihatin dengan budaya adat yang mengungkung kebebasan wanita untuk menuntut ilmu.

Menurut Kartini, ilmu yang diperoleh para wanita melalui pendidikan ini bukanlah sebagai sarana untuk sekedar menang-menangan dengan laki-laki. Tapi lebih sebagai bekal mendidik anak-anak kelak agar menjadi generasi berkualitas. Bukankah anak yang dibesarkan dari ibu yang berpendidikan akan sangat berbeda kualitasnya dengan mereka yang dibesarkan secara asal? Inilah yang berusaha diperjuangkan Kartini saat itu.

Kartini memang sempat kagum dengan kemajuan yang dicapai oleh wanita Barat. Karena kebetulan saat itu yang menjadi teman koresponden beliau adalah wanita-wanita dari negeri Belanda. Tapi jangan lupa lho, ada perubahan pemikiran pada diri Kartini setelahnya ketika ia mengatakan dalam tulisannya: “Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradapan?. Artinya bahwa budaya Barat bukanlah menjadi parameter keberhasilan dalam membentuk sebuah peradapan baru yang bermutu”

Sungguh , ibu kita Kartini pasti menangis dengan teramat nelangsa apabila beliau tahu apa yang dilakukan wanita-wanita sekarang dengan mendompleng nama besar perjuangannya. Lihatlah wanita-wanita yang terserak di jalan-jalan dengan dandanan menor dan baju mini atas nama emansipasi. Mereka meninggalkan kewajiban serta fitrahnya sebagai wanita.

Para wanita itu enggan untuk menjadi ibu bagi anak-anaknya. Karena hamil hanya merusak bentuk tubuh indah mereka. Fungsi ibu sebagai pendidik utama juga telah tergantikan dengan keberadaan baby sister di rumah. Anak tumbuh besar dengan didampingi oleh orang lain dan miskin dekapan ibunya. Kehidupan dan karier diluar rumah jauh lebih menggiurkan daripada berkutat dengan anak di rumah.

Sedangkan mereka, para muslimah yang memilih setia manjadi ibu rumah tangga lebih banyak dicibir karena dianggap tidak produktif. Makna produktif di sini adalah segala sesuatu yang dapat menghasilkan uang dan dapat dinilai secara materi.

Sangat disayangkan jika sudah tahu cita-cita Ibu Kartini saat beliau masih hidup dibandingkan dengan fakta yang kita lihat sehari-hari. Dan juga ada apa sih sebetulnya di balik ide emansipasi wanita itu. Ternyata dengan ide ini, bukannya membawa perbaikan nasib semakin terpuruknya ke lembah yang bernama eksploitasi. (DINA; Komunitas Penulis Bogor 36)

Sumber

[ Read More.. ]

Jumat, 04 April 2008

SING LIKE STAR

SING LIKE STAR....

Salah satu acara di Global TV... yang isinya anak2 muda mudi yang gila2an... ada yang nyanyi, and joged2....

Rin pernah nonton sekali... itu juga suatu kebetulan... acarany aneh... masa cewek yang goyangannya teu puguh ga jelas gitu yang menang.... hm.... penilaiannya dari apa?? apa dari expresi kegilaannya aja??

SING LIKE STAR....

Di Universitas Pakuan... Pada hari jumat di depan gedung rektorat... hari jumat yang kudunya diisi dengan kajian2, atau kegiatan2 positif yang bermanfaat, apalagi yang bisa menambah keimanan, malah ada acara kayak beginian... yang ga tanggung2... acaranya dimulai dari pagi ampe sore... wuih...

SING LIKE STAR...

Pada Hari jumat... yang ikut jadi peserta, dan yang ikut nonton.... cewek dan cowok... yang tadi habis sholat jumat *bagi cowok* dan solat dzuhur *Bagi cewek*... langsung menuju ke depan gedung rektorat... lalu perubahan apa yang kalian lakukan setelah solat?? setelah kalian menghadap Allah swt??

SING LIKE STAR...

Apa termasuk acara yang mendidik?? kita ini mahasiswa... knp terima aja dengan acara2 yang bisa membodohi para mahasiswa?? Pulang kampus jam 3... temen2 ngajakin rin nonton acara kayak gitu... wah enggak deh makasih.... rin ga mau termasuk dalam kelompok mereka... terbius dengan kegiatan2 yang ga ada untungnya....

SING LIKE STAR....

aku ILFEEL deh sama kamu....

[ Read More.. ]

Selasa, 25 Maret 2008

Di Kampong Cham, Lupakan Saja Putri Campa

Legenda Putri Campa (atau Putri Cempo) dalam sejarah Majapahit dan Demak nyaris selalu menyertai bayangan orang setiap kali bicara tentang Kamboja, Thailand, atau Vietnam. Dia digambarkan sebagai sosok putri cantik, berkulit kuning dengan pipi merah dadu yang dipersunting Raja Majapahit Prabu Brawijaya Pamungkas. Dan dari putri berdarah Indochina itulah lahir Raden Patah, atau Sultan Fatah, yang juga dikenal sebagai Pangeran Jimbun, pendiri kerajaan Islam pertama di tanah Jawa, Demak Bintara.

Dari mana tepatnya asal usul putri itu, apakah dari keturunan Kerajaan Melayu Campa di Vietnam tengah, putri boyongan dari negeri Siam, atau dari kawasan yang kini menjadi salah satu provinsi di Kerajaan Kamboja bernama Kampong Cham? Provinsi tersebut berada sekitar 120 kilometer ke arah timur laut dari Phnom Penh, ibu kota Kamboja. Namanya saja legenda, ya walluhua'lam bissawab.

Merekatkan kedekatan Kamboja, khususnya Campa dengan sejarah Jawa memang beralasan. Terdapat bukti kuat lewat prasasti-prasasti mengenai hubungan antara Jawa dan Sriwijaya dengan Kerajaan Angkor di masa Raja Jayawarman II pada abad kedelapan.

Hubungan itu terkesan semakin rekat bila kita melihat Kampong Cham yang berpenduduk dengan mayoritas muslim. Sebagian dari mereka berbahasa Melayu Cham dan memiliki aksara Jawi (huruf Arab gundul). Dalam komposisi sekitar 12 juta jiwa penduduk Kamboja, yang beragama Islam diperkirakan mencapai sekitar satu juta jiwa. Kalau dalam hitungan itu terdapat 25 masjid, maka sedikitnya ada 25 kampung muslim di seluruh Kamboja, termasuk di Phnom Penh dan di Provinsi Battambang. Jumlah penduduk muslim itu, pada pertengahan 1970-an sempat menyusut drastis ketika rezim komunis Pol Pot melakukan intimidasi dan pembunuhan terhadap orang-orang yang tidak sejalan dengan keyakinannya.

Orang Kamboja beragama Islam, menurut Muhammad Ismail, sopir di KBRI Phnom Penh yang berdarah Cham, disebut sebagai "Muslim Khmer". Mereka dikoordinasikan oleh Majelis Tertinggi Agama Islam Kamboja di ibu kota Phnom Penh, tepatnya di kawasan Chrang Chomreh.

Keturunan Vietnam

Penduduk Cham yang biasa disebut sebagai Melayu Cham merupakan keturunan orang-orang Vietnam tengah yang hijrah pada 300 tahun lalu akibat kecamuk perang di negaranya. Gelombang kepindahan itu bukan hanya ke Kamboja, tetapi juga ke Semenanjung Melayu, Aceh, dan kepulauan Hainan.

Tetapi bila Anda berada di Kampong Cham, jangan sekali-sekali membayangkan bisa bersua dengan sosok seperti Putri Campa di sana. Lupakanlah segera sang Putri. Pupuskan segera bayangan kemegahan sebuah istana, selaiknya citra yang mengiringi kehidupan para putri. Apa pasal? Alih-alih menjumpai citra seperti itu, Anda justru akan melihat sejumlah kondisi serba-memprihatinkan di banyak kampung muslim. Hanya ada rumah-rumah panggung dari bangunan kayu kumuh dengan lingkungan masih sangat tradisional dan berfasilitas seadanya.

Siang itu, di dusun Chrua, di tepian Sungai Mekong, anak-anak lelaki berlarian dengan hanya bercelana pendek tanpa mengenakan baju atau kaus. Para perempuan bertransaksi di warung-warung kecil yang berada di mulut kampung. Sejumlah di antara mereka mengenakan kerudung, beberapa tampil "modis", tetapi tetap saja itu tidak menghapus kesan kekumuhan akibat belitan kemiskinan.

Dengan sekali bertanya, cukup sudah buat saya untuk tahu di mana "pusat kegiatan" yang harus saya tuju. Sebuah masjid! Ah, mungkin lebih tepat disebut surau kecil. Itu bangunan paling bagus di antara rumah-rumah panggung yang berderet di tiap sisi jalan. Bangunan kayu sederhana sekitar 10 X 5 meter itu berdiri sedikit di atas ketinggian tanah, menyisakan halaman yang dari kondisinya terlihat seperti bekas bangunan masjid. Sebidang tanah dengan sisa-sisa serpihan lantai keramik itu dipakai untuk shalat Jumat atau shalat id setiap kali jamaah membeludak.

Saya berani menjamin, Anda bakal tidak tega menyaksikan kondisi masjid yang dibangun pada 1974 itu. Ada kesan kuat kalau para pembangunnya ingin membuat interiornya terlihat "gagah" dengan plafon halus. Di atas mihrab sederhana terletak sebuah jam penunjuk waktu shalat dengan tulisan dhuhur sampai shubuh menggunakan huruf Jawi.

Tikar masjid terlihat kusam, tanpa sehelai sajadah pun di sana. Semua itu mewartakan: begitulah keadaan masyarakat Cham di Dusun Chrua yang terletak di tepian sungai di bawah jembatan Kizuna yang dibangun atas bantuan Pemerintah Jepang itu.

"Saya bersyukur ada wartawan Indonesia yang datang kemari. Saya dengar muslim di Indonesia banyak yang kaya. Siapa tahu setelah membaca tulisan Anda nanti, ada yang tergerak untuk memberi sumbangan kepada kami agar bisa merenovasi masjid ini," kata ustad Abdul Rosyid mewakili para jamaah ashar pada sore yang cerah, tetapi memberi kesan kegetiran itu. Betapa polos dan sepenuh hati harapan itu.

Sejumlah dusun di sana mendapat bantuan pembangunan sumur -fasilitas yang sangat dibutuhkan terutama pada musim kemarau- dari rakyat Malaysia dan Singapura. Bantuan untuk pembangunan masjid juga datang dari negara-negara muslim lainnya.

Walhasil, bayangan Putri Campa pun cepat berlalu, sesegera Anda menyaksikan kondisi kehidupan saudara-saudara kita di Chrua, salah satu bagian dari kampung muslim di Kampong Cham.

Sumber: SuaraMerdeka

[ Read More.. ]

Jumat, 21 Maret 2008

Catatan Pengingat aja....

Bilamana aku memakai jilbab di negeri kafir, manusia akan melihat dan memperhatikanku, namun bila aku melepaskan
jilbabku, aku seperti mereka, tak ada yang memperhatikanku.

Wahai sahabatku yang cerdik dan pandai:
sesungguhnya melawan arus kejahatan, konsisten, komitmen, dan konsekwen dalam kebenaran terutama di negeri kafir adalah iman yang diserukan Allah SWT, tidak boleh seorangpun melakukan ijtihad menentukan hukum padahal telah ada nash Al Qur’an dan Al Hadits.

Firman Alloh SWT,,

“Orang-orang yahudi dan nashrani tak akan pernah rela padamu sampai engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah sesungguhnya petunjuk Allah adalah petunjuk yang sebenarnya, dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi
Pelindung dan Penolong bagimu” (QS. Al Baqarah: 120).

Mereka berkata: “Cukup bagi saya ke-Islamanmu sebatas pada ibadah ritual semata. Adapun ilmu, moral, tingkah laku, pakaian, ide, dan seluruh urusan duniamu, wajiblah engkau mengikuti cara kami”.

[ Read More.. ]